( ENDING ) BELAJAR MENGENAL DIRI SENDIRI DARI SESEORANG YANG TAK PERNAH MENGENALKU๐น๐น๐น
Cape ah di ingetin terus ๐
๐๐๐๐
Awalnya sangat sederhana. Hanya sebuah unggahan yang lewat di linimasa Instagram, muncul tanpa undangan, tanpa rencana. Sebuah foto dengan cahaya yang tidak berlebihan, senyum yang tidak dibuat-buat, dan tatapan yang seolah tidak sedang mencari perhatian siapa pun. Namun entah mengapa, jari ini berhenti menggulir. Ada jeda yang tak biasa. Seolah waktu sengaja melambat hanya untuk memberi ruang bagi rasa yang belum punya nama.
Rasa itu bukan cinta. Belum. Bahkan mungkin terlalu dini untuk disebut ketertarikan. Ia lebih mirip kekaguman yang tumbuh diam-diam, tanpa suara, tanpa tuntutan. Kekaguman yang lahir bukan karena ingin memiliki, melainkan karena merasa ada sesuatu yang indah untuk dipandang dari jauh. Seperti menikmati senja tanpa keinginan untuk menyimpannya di saku.
Aku mulai membuka profil itu. Bukan dengan niat apa-apa, hanya rasa ingin tahu yang wajar, kataku pada diri sendiri. Membaca bio singkatnya, melihat unggahan lama, cara ia memilih lagu. Tidak berlebihan, tidak juga kosong. Ada kesan bahwa ia adalah seseorang yang hidup dengan caranya sendiri, tanpa harus selalu terlihat sempurna.
Sejak saat itu, setiap unggahan barunya menjadi semacam penanda waktu. Aku tidak pernah memberi tanda suka berlebihan, tidak pernah berkomentar apa pun. Hanya melihat, membaca, lalu menyimpan kesan di kepala. Anehnya, dari kebiasaan kecil itu, lahir keinginan yang lebih besar: ingin mengenal lebih dekat. Bukan hanya tentang dia, tetapi tentang diriku sendiri. Karena setiap kali melihatnya, aku mulai bertanya: mengapa aku mengagumi? Apa yang sebenarnya kucari dari sosok asing di layar kecil ini? Apakah karena ia terlihat tenang sementara pikiranku selalu riuh? Apakah karena ia tampak yakin dengan dirinya sendiri, sementara aku masih sering ragu melangkah?
Dari kekaguman itu, aku mulai bercermin. Aku mulai melihat diriku dengan lebih jujur. Kelebihanku perlahan muncul ke permukaan, bukan sebagai kesombongan, tetapi sebagai pengakuan bahwa aku juga punya nilai. Aku sadar bahwa aku mampu berpikir dalam, mampu merasakan dengan penuh, mampu setia pada perasaan meski sering kali tidak terbalas oleh realitas.
Namun bersamaan dengan itu, kekuranganku juga berdiri jelas. Aku terlalu sering berandai-andai. Terlalu mudah membangun cerita di kepala tanpa keberanian untuk menjadikannya nyata. Aku pandai merangkai kata, tetapi kerap kehilangan suara ketika harus berbicara langsung. Aku berani jatuh cinta dalam diam, namun takut menghadapi kemungkinan penolakan.
Setiap malam, khayalan itu tumbuh. Aku membayangkan percakapan sederhana dengannya tentang hal-hal kecil, tentang hidup, tentang kegagalan dan harapan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika ia mengenalku bukan sebagai angka penonton di Instagram, tetapi sebagai manusia utuh dengan cerita dan luka. Namun semua itu hanya terjadi di kepala, tak pernah turun ke dunia nyata. Aku tahu batasnya. Aku sadar bahwa apa yang kulihat hanyalah potongan kecil dari hidupnya, kurasi terbaik dari hari-harinya. Aku tahu bahwa ia mungkin sama sekali tidak menyadari keberadaan ku. Dan justru di situlah letak kejujuran rasa ini: tidak memaksa, tidak berharap berlebihan, tidak menuntut untuk diakui.
Rasa mengagumi itu akhirnya berubah menjadi guru yang diam. Ia mengajarkanku bahwa mengagumi seseorang tidak selalu tentang mendekat, apalagi memiliki. Terkadang, mengagumi hanyalah tentang belajar. Belajar menerima bahwa ada orang yang hadir dalam hidup kita hanya sebagai bayangan, namun mampu meninggalkan jejak yang nyata di dalam pikiran. Dari dia, aku belajar tentang keheningan. Tentang menikmati tanpa harus menyentuh. Tentang mencintai versi kemungkinan, bukan kenyataan. Dan yang terpenting, aku belajar bahwa perjalanan paling dekat yang pernah ku tempuh justru adalah perjalanan mengenal diriku sendiri.
Pada akhirnya, aku kembali menggulir linimasa seperti biasa. Foto-foto terus berlalu, cerita terus berganti. Rasa itu perlahan menepi, tidak hilang sepenuhnya, tetapi menemukan tempatnya sendiri. Ia menjadi kenangan yang tidak menyakitkan, khayalan yang tidak perlu diwujudkan. Karena tidak semua rasa harus berakhir pada pertemuan. Ada rasa yang cukup disimpan sebagai pengingat bahwa kita pernah mampu mengagumi dengan tulus, tanpa pamrih, tanpa tuntutan. Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.
Waktu berjalan seperti biasa, namun ada sesuatu yang berubah di dalam diri. Rasa mengagumi itu tidak lagi hadir sebagai gelombang yang tiba-tiba, melainkan sebagai arus tenang yang sesekali terasa di dada. Aku tidak lagi menunggu unggahan barunya dengan antusias yang berlebihan. Aku tidak lagi mencari-cari makna tersembunyi dari setiap yang di unggah. Aku mulai berdamai dengan jarak jarak yang sejak awal memang ada dan tidak pernah benar-benar bisa ku tembus.
Namun justru dari jarak itu, muncul kesadaran yang lebih dalam. Aku menyadari bahwa kekaguman ini bukanlah tentang dirinya semata, melainkan tentang ruang kosong dalam diriku yang selama ini menunggu untuk diisi. Ia hanyalah pemantik, sebuah cermin yang memantulkan sesuatu yang selama ini tidak berani ku tatap terlalu lama: keinginan untuk menjadi versi diriku yang lebih jujur, lebih berani, dan lebih utuh.
Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, dengan pertanyaan yang tidak lagi ingin ku hindari. Mengapa aku lebih nyaman mencintai dari kejauhan? Mengapa aku lebih suka membangun dunia di kepala daripada melangkah di dunia nyata? Dari pertanyaan-pertanyaan itu, aku menemukan bahwa aku sering kali takut pada kegagalan, takut pada penolakan, dan lebih takut lagi pada kemungkinan bahwa realitas tidak seindah bayangan. Dalam khayalan, segalanya aman. Tidak ada risiko. Tidak ada luka. Tidak ada kata “tidak” yang harus diterima dengan lapang dada. Namun di situlah letak kekurangannya: khayalan tidak pernah benar-benar menguji kita. Ia hanya memeluk, tetapi tidak pernah menguatkan.
Aku mulai belajar menerima bahwa diriku bukanlah sosok yang sempurna. Aku penuh ragu, sering menunda, dan terlalu banyak berpikir. Tetapi aku juga tahu bahwa aku mampu tumbuh. Bahwa aku bisa belajar menghadapi ketakutan satu per satu, meski dengan langkah kecil dan gemetar. Kekaguman ini, yang awalnya terasa seperti pelarian, perlahan berubah menjadi dorongan untuk memperbaiki diri bukan demi dirinya, tetapi demi diriku sendiri.
Aku mulai lebih memperhatikan hidupku sendiri. Pekerjaan yang selama ini kulakukan setengah hati, mulai kujalani dengan lebih sadar. Hubungan dengan orang-orang di sekitarku mulai ku perbaiki, satu percakapan jujur dalam satu waktu. Aku belajar hadir sepenuhnya, tidak lagi terlalu sering tenggelam dalam lamunan yang tidak membawa ke mana-mana. Sesekali, aku masih melihat profilnya. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada juga rasa berharap. Hanya senyum kecil yang muncul, seperti menyapa kenangan lama yang pernah memberi warna. Aku menyadari bahwa ia tetap menjadi sosok yang ku kagumi, tetapi tidak lagi sebagai tujuan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan.
Ada hari-hari di mana aku merasa sedikit kehilangan. Bukan kehilangan dirinya, melainkan kehilangan kebiasaan lama kebiasaan melarikan diri ke dalam khayalan ketika dunia terasa berat. Namun kini aku tahu, kehilangan itu perlu. Karena dengan melepaskan khayalan, aku memberi ruang bagi kemungkinan yang nyata. Aku mulai memahami bahwa tidak semua orang yang hadir dalam hidup kita harus menjadi bagian dari cerita panjang. Ada yang cukup menjadi paragraf singkat, tetapi bermakna. Ada yang tidak pernah berbicara dengan kita, namun mengajarkan banyak hal tentang diri kita sendiri.
Dan mungkin, suatu hari nanti, aku akan mengagumi seseorang dengan cara yang berbeda. Bukan lagi dari balik layar, bukan lagi dalam diam yang panjang. Mungkin dengan keberanian untuk menyapa, untuk mengenal, dan untuk menerima apa pun hasilnya. Namun jika hari itu belum tiba, aku tidak lagi merasa tertinggal. Karena kini aku tahu, perjalanan ini tidak sia-sia. Kekaguman yang lahir dari khayalan telah membawaku pada pertemuan yang lebih penting: pertemuan dengan diriku sendiri. Dengan segala kelebihan yang patut disyukuri, dan segala kekurangan yang tidak lagi harus disembunyikan.
Pada akhirnya, aku belajar satu hal sederhana namun sulit: tidak semua rasa harus diwujudkan agar memiliki makna. Ada rasa yang cukup dirasakan, dipahami, lalu dilepaskan dengan tenang. Dan dalam pelepasan itu, aku menemukan kebebasan untuk melangkah ke depan, tanpa bayangan yang mengikat, tanpa khayalan yang menahan.
FIKSI POJOK KAMAR



Komentar
Posting Komentar