DIBESARKAN OLEH KEHILANGAN 🥀🥀
Aku adalah anak kedua.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di dalamnya ada ruang kosong yang tidak semua orang bisa mengerti.
Aku tidak tumbuh dengan sosok ayah di rumah. Bukan karena ayah meninggal, tapi karena hidup memilih jalan yang berbeda untuk keluargaku. Saat usiaku dua tahun, kedua orang tuaku bercerai. Usia yang terlalu kecil untuk mengingat pertengkaran, namun cukup besar untuk menyimpan dampaknya seumur hidup.
Aku punya satu kakak.
Dia ikut ayah.
Aku ikut ibu.
Sejak hari itu, keluargaku terbelah bukan hanya oleh jarak, tapi oleh pengalaman hidup yang berbeda. Kakakku tumbuh dengan sosok ayah dengan suara laki-laki dewasa di rumah, dengan figur yang bisa ditiru, dimarahi, atau dipeluk. Sementara aku tumbuh dengan ibu dan sunyi yang tidak pernah benar-benar bisa dijelaskan.
Aku sering bertanya dalam diam:
Seperti apa rasanya punya ayah?
Bukan ayah dalam cerita orang lain, tapi ayah dalam hidupku sendiri.
Aku melihat ayah-ayah lain mengantar anaknya sekolah, menjemput dengan motor tua, menepuk kepala anaknya tanpa banyak kata. Setiap kali melihat itu, dadaku seperti ditarik pelan bukan sakit, tapi kosong. Perasaan yang tidak bisa disebut iri, karena aku bahkan tidak tahu apa yang hilang. Aku hanya tahu, ada sesuatu yang seharusnya ada, tapi tidak pernah datang.
Ibuku adalah segalanya.
Dia menjadi ibu, sekaligus ayah, sekaligus tempat pulang. Tapi sekuat apa pun seorang ibu, ada peran yang tidak bisa digantikan. Ada kalimat yang tidak pernah kudengar, ada pelukan yang tidak pernah kurasakan, ada pengakuan yang tidak pernah kudapatkan.
Aku tumbuh belajar menjadi kuat lebih cepat dari seharusnya.
Aku belajar menahan perasaan.
Belajar tidak meminta terlalu banyak.
Belajar memahami bahwa hidup tidak selalu adil.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah kepribadianku sekarang lahir dari kekosongan itu. Aku menjadi seseorang yang mandiri, tapi sulit percaya. Kuat di luar, tapi sering lelah di dalam. Aku bisa berdiri sendiri, tapi ada bagian diriku yang selalu merasa sendirian, bahkan di tengah keramaian.
Sekarang aku berumur 23 tahun.
Usia di mana orang mulai bicara tentang masa depan, tentang mimpi, tentang membangun keluarga. Di usia ini, aku tidak lagi marah. Aku juga tidak sepenuhnya memaafkan. Aku hanya belajar menerima.
Aku menerima bahwa hidupku dimulai dari kekurangan. Bahwa aku dibesarkan tanpa kasih sayang seorang ayah, tapi bukan tanpa nilai. Bahwa aku mungkin tidak tahu bagaimana rasanya dipeluk ayah, tapi aku tahu bagaimana rasanya bertahan.
Aku bukan korban.
Aku adalah hasil dari luka yang belajar berjalan sendiri.
Dan jika suatu hari aku menjadi ayah,
aku tahu satu hal yang pasti: aku tidak ingin anakku bertanya hal yang sama seperti yang sering kutanyakan dalam diam "Seperti apa rasanya punya ayah?"
Di usia 23 tahun, aku mulai sadar bahwa luka tidak selalu berisik.
Sebagian luka justru tumbuh dalam diam, menyamar sebagai kedewasaan.
Aku terlihat baik-baik saja.
Bisa tertawa, bercanda, bahkan memberi nasihat pada orang lain. Tapi ada bagian dalam diriku yang selalu berjaga, seolah takut ditinggalkan lagi. Setiap kali seseorang pergi meski alasannya sederhana hatiku bereaksi lebih keras dari seharusnya. Bukan karena mereka penting, tapi karena kepergian selalu mengingatkanku pada satu hal: aku sudah pernah ditinggal sejak terlalu kecil untuk melawan.
Aku tidak membenci ayahku.
Aku hanya tidak mengenalnya sebagai ayah.
Namanya ada, wajahnya nya pun masih ada, tapi perannya kosong. Seperti tokoh yang seharusnya penting dalam cerita, namun tidak pernah muncul di halaman-halaman berikutnya. Aku tidak tahu bagaimana rasanya dipuji olehnya, dimarahi olehnya, atau sekadar didengarkan olehnya. Yang aku tahu, aku tumbuh tanpa arah dari sosok itu, dan harus mencari jalanku sendiri.
Hubunganku dengan kakakku juga seperti bayangan. Kami terhubung oleh darah, tapi terpisah oleh waktu dan pengalaman. Dia hidup di dunia yang berbeda dunia yang aku tidak pernah masuki. Kadang aku bertanya-tanya, apakah dia pernah memikirkanku? Apakah ayah pernah menyebut namaku di depannya? Pertanyaan-pertanyaan itu jarang terjawab, dan lama-lama aku berhenti bertanya.
Aku belajar mencintai dengan cara yang aneh.
Aku memberi terlalu banyak, atau justru menahan semuanya. Takut berharap, tapi juga takut kehilangan. Setiap kali menyukai seseorang, ada suara kecil di kepalaku yang berkata: jangan terlalu percaya, orang bisa pergi kapan saja.
Malam-malam tertentu menjadi waktu paling jujur.
Saat dunia tidur dan tidak ada yang menuntutku untuk terlihat kuat, aku duduk dengan pikiranku sendiri. Di sana, aku mengakui hal yang jarang kuucapkan: aku iri pada orang-orang yang punya ayah. Bukan karena hidup mereka sempurna, tapi karena mereka punya pilihan punya kenangan, punya cerita, punya sesuatu untuk dirindukan.
Aku tidak punya itu.
Aku hanya punya ruang kosong.
Namun perlahan aku mulai mengerti: ruang kosong itu tidak selalu untuk disesali. Ia bisa menjadi tempat tumbuh. Dari ketiadaan, aku belajar empati. Dari kekurangan, aku belajar memahami luka orang lain tanpa harus dijelaskan panjang lebar. Aku menjadi seseorang yang peka, karena aku tahu rasanya tidak diperhatikan.
Ibuku menua di depanku, dan aku melihat betapa berat hidup yang ia pikul sendirian. Dari beliau, aku belajar arti tanggung jawab, keteguhan, dan cinta tanpa syarat. Jika aku masih berdiri sampai hari ini, itu karena ada satu orang yang tidak pernah pergi.
Aku mungkin tidak dibesarkan oleh seorang ayah, tapi aku dibesarkan oleh keteguhan. Dan sekarang, aku berdiri di persimpangan: antara terus membawa luka ini sebagai beban, atau menjadikannya akar.
Aku memilih yang kedua.
Karena aku percaya, seseorang yang lahir dari kekosongan, bisa tumbuh menjadi seseorang yang penuh bukan karena hidup memberinya segalanya, tapi karena ia belajar menciptakannya sendiri.
Dan mungkin, di suatu masa nanti,
aku tidak lagi dikenal sebagai anak yang kehilangan ayah, melainkan sebagai seseorang yang berhasil berdamai dengan masa lalunya tanpa melupakannya.
FIKSI POJOK KAMAR



Komentar
Posting Komentar