SUATU KEBINGUNGAN YANG TIDAK PERNAH ADA JAWABANNYA DI SAAT MENGAGUMI


Ia pertama kali melihatnya bukan dari dunia nyata, melainkan dari layar yang dingin dan datar.Ada sesuatu yang terasa akrab, padahal mereka tidak pernah bertemu. Sejak hari itu, ia mulai memperhatikan akun itu dengan cara yang tidak ia lakukan pada akun lain.Perempuan itu tidak banyak bicara di media sosial. Tidak ada unggahan mesra, tidak ada tangan yang saling menggenggam, tidak ada nama yang ditandai dengan hati. Semuanya terasa sunyi, rapi, dan tertata terlalu rapi untuk ditebak.

Di situlah kebingungan itu bermula.

Ia mengaguminya diam-diam, dengan perasaan yang tumbuh perlahan namun konsisten. Bukan cinta yang meledak-ledak, melainkan rasa penasaran yang terus mengendap. Setiap kali notifikasi Instagram menyala, ia berharap nama itu muncul. Dan setiap kali tidak, ia berpura-pura tidak kecewa. 

Namun ada satu pertanyaan yang selalu berputar di kepalanya, seperti lagu yang tidak pernah selesai: Apakah dia sudah punya pacar?

Tidak ada jawabannya di profil itu. Tidak ada petunjuk pasti. Hanya potongan-potongan kecil yang bisa ditafsirkan ke mana saja. Sebuah foto apakah ia sendirian, atau ada seseorang di seberang sedang menatapnya yang tidak tertangkap kamera? Sebuah unggahan langit malam apakah itu diambil setelah percakapan panjang dengan seseorang, atau justru karena ia sendiri?

Laki-laki itu sering membayangkan kemungkinan terburuk, bukan karena ia pesimis, tetapi karena ia takut berharap. Ia tahu, di dunia media sosial, tidak semua hal perlu diumumkan. Ada orang-orang yang bahagianya cukup disimpan sendiri. Dan perempuan itu terlihat seperti tipe yang demikian.

Ia pernah hampir memberanikan diri mengirim pesan. Sudah diketik, sudah dibaca ulang, sudah dihapus, lalu diketik lagi. Kalimat sederhana saja: “Hai, fotomu bagus.” Namun jempolnya selalu berhenti sebelum menekan tombol kirim. Ia takut menjadi salah satu dari banyak pesan yang masuk. Ia takut keberadaannya hanya akan menjadi notifikasi yang diabaikan. Lebih dari itu, ia takut pada satu hal yang tidak pernah terucap: jika ia bertanya terlalu jauh, ia mungkin akan menemukan jawaban yang tidak siap ia terima.

Hari-harinya berjalan seperti biasa, tetapi pikirannya sering tersangkut pada hal-hal kecil tentang perempuan itu. Lagu yang ia unggah di story apakah itu hanya lagu, atau sebuah kode? Kutipan pendek apakah itu tanda ia sedang bahagia, atau justru sedang belajar menerima? Ia menyadari betapa anehnya perasaannya. Mengagumi seseorang yang bahkan belum tentu mengenalnya. Mencemaskan status hubungan seseorang yang tidak pernah ia tanyakan secara langsung. Namun begitulah rasanya: perasaan tidak selalu membutuhkan logika untuk tumbuh.

Ada malam-malam ketika ia merasa bodoh. Duduk sendiri, membuka ulang profil itu, lalu bertanya pada dirinya sendiri mengapa ia begitu terikat. Ia mencoba menjauh, berhenti melihat unggahan baru, berhenti mencari makna tersembunyi. Tetapi rasa itu tidak pergi. Ia hanya bersembunyi, menunggu saat lengah untuk muncul lagi. Yang paling melelahkan bukanlah rasa suka itu sendiri, melainkan ketidakpastian. Jika perempuan itu jelas-jelas memiliki seseorang, mungkin ia bisa mundur dengan elegan. Jika perempuan itu jelas-jelas sendiri, mungkin ia bisa memberanikan diri. Namun ketidakjelasan membuatnya terjebak di tengah tidak maju, tidak mundur.

Ia sering membayangkan skenario yang tidak pernah terjadi. Percakapan pertama yang berjalan canggung tapi hangat. Tawa kecil yang tidak terdengar. Bahkan kemungkinan bahwa mereka ternyata tidak cocok. Semua ia bayangkan, kecuali satu hal: penolakan yang nyata. Karena selama semuanya masih di dalam kepala, tidak ada yang benar-benar hilang. Pada suatu titik, ia menyadari sesuatu yang pahit namun jujur. Mungkin kebingungannya bukan hanya tentang apakah perempuan itu punya pacar atau tidak. Mungkin yang sebenarnya ia takuti adalah keberanian untuk mengetahui kebenaran. Karena kebenaran, apa pun bentuknya, akan memaksanya mengambil keputusan.

Dan ia belum siap.

Malam itu, ia kembali membuka Instagram. Tidak ada unggahan baru. Hanya profil yang sama, dengan senyum yang sama. Ia menarik napas panjang dan tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, ia mengakui perasaannya sendiri bukan kepada perempuan itu, tetapi kepada dirinya. Bahwa mengagumi dalam diam memang aman, tetapi juga menyakitkan. Bahwa tidak semua perasaan harus segera dimiliki, tetapi tidak semua juga harus disimpan selamanya. Dan bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, melainkan tetap melangkah meski takut. Ia menutup aplikasi itu, dengan satu keputusan kecil yang belum tentu ia tepati esok hari. Entah ia akan mengirim pesan, atau entah ia akan belajar melepaskan. Yang jelas, malam itu ia berhenti menebak-nebak. Untuk sesaat, ia membiarkan perasaannya ada tanpa jawaban, tanpa kepastian, namun jujur.

Dan mungkin, di dunia yang serba dipamerkan, perasaan yang tidak dipublikasikan memang terasa paling nyata.



FIKSI POJOK KAMAR 


Komentar

Postingan Populer