HADIR, TAPI TAK PERNAH MENJADI TUJUAN🥀🥀🥀
Aku tidak pernah benar-benar tahu kapan pertama kali aku merasa tidak dicintai. Tidak ada tanggal pasti, tidak ada peristiwa dramatis yang bisa aku tunjuk sebagai awal. Perasaan itu tumbuh perlahan, seperti retakan halus di dinding tidak langsung runtuh, tapi lama-lama melebar, menggerogoti, dan akhirnya menetap sebagai bagian dari diriku.
Sejak kecil, aku terbiasa melihat dunia dari pinggir. Aku ada di tengah keramaian, tapi tidak pernah merasa benar-benar menjadi bagian dari siapa pun. Aku belajar cepat tentang satu hal: jangan berharap terlalu tinggi, karena jatuhnya akan sakit. Jadi aku menurunkan ekspektasi, satu per satu, sampai akhirnya aku bahkan tidak berani berharap sama sekali.
Aku melihat orang lain dicintai dengan cara yang sederhana namun begitu berarti. Mereka dipanggil namanya dengan lembut, diperhatikan tanpa diminta, dirindukan tanpa harus menghilang terlebih dahulu. Aku memperhatikan semua itu dalam diam. Bukan iri, lebih kepada bingung. Aku bertanya-tanya, apa rasanya menjadi seseorang yang kehadirannya dinantikan?
Aku tumbuh menjadi seseorang yang mudah memahami orang lain, mungkin karena aku terlalu sering berusaha dimengerti tapi gagal. Aku peka terhadap perubahan nada suara, terhadap jeda dalam percakapan, terhadap tatapan yang mulai kehilangan minat. Aku tahu kapan harus diam, kapan harus mengalah, kapan harus pergi sebelum diminta. Aku pandai membaca orang, tapi tidak ada yang benar-benar mau membaca aku.
Ketika remaja, aku mulai percaya bahwa cinta bisa menjadi jawabannya. Aku pikir, mungkin selama ini aku tidak dicintai karena belum bertemu orang yang tepat. Jadi aku menunggu. Dengan sabar, dengan hati terbuka, dengan keyakinan yang pelan-pelan mulai rapuh.
Lalu seseorang datang.
Tidak istimewa pada awalnya. Hanya hadir, hanya berbicara, hanya mau mendengarkan. Tapi bagiku, itu sudah terasa seperti keajaiban kecil. Aku mulai berharap lagi, meski dengan hati-hati. Aku tidak langsung jatuh, tapi aku membuka pintu yang selama ini terkunci rapat.
Aku mencintai dengan cara yang paling aku tahu: sepenuh hati. Aku hadir ketika mereka lelah, aku mendengar tanpa menghakimi, aku mengerti bahkan ketika mereka tidak bisa menjelaskan. Aku tidak meminta banyak, hanya ingin dianggap penting. Hanya ingin dipilih.
Namun lagi-lagi, ceritanya sama.
Aku tidak ditinggalkan karena aku jahat. Aku tidak ditinggalkan karena aku kurang. Aku ditinggalkan karena aku terlalu ada. Terlalu siap, terlalu mengerti, terlalu mudah diandalkan. Aku menjadi tempat singgah yang nyaman, bukan tujuan akhir. Mereka datang untuk menghangatkan diri, lalu pergi saat sudah kuat berjalan sendiri. Setiap perpisahan meninggalkan luka kecil. Tidak langsung menghancurkan, tapi menumpuk. Luka-luka itu membentuk keyakinan baru dalam diriku: aku bukan seseorang yang layak untuk dicintai lama-lama.
Aku mulai mempertanyakan diriku sendiri. Mungkin aku terlalu membosankan. Terlalu serius. Terlalu dalam. Atau mungkin aku memang tidak cukup menarik untuk diperjuangkan. Aku mencoba mengubah diri sedikit lebih dingin, sedikit lebih cuek, sedikit lebih tidak peduli. Tapi anehnya, semakin aku menutup diri, semakin aku kehilangan diriku sendiri. Aku tertawa lebih sering, tapi rasanya kosong. Aku bercanda, tapi tidak ada yang benar-benar aku bagikan. Aku ada, tapi tidak sepenuhnya hidup.
Yang paling menyakitkan bukan kesepian. Kesepian sudah lama menjadi temanku. Yang paling menyakitkan adalah merasa tidak terlihat. Seolah-olah aku transparan. Orang-orang lewat, berbicara, tertawa bersamaku, tapi tidak ada yang benar-benar berhenti untuk melihat siapa aku sebenarnya.
Aku sering bertanya dalam hati, apakah aku diciptakan hanya untuk mencintai, bukan untuk dicintai? Apakah peranku di dunia ini hanya sebagai penguat bagi orang lain, bukan sebagai seseorang yang juga butuh dikuatkan? Aku lelah menjadi yang selalu mengerti. Lelah menjadi yang selalu bertahan. Lelah menjadi yang selalu berkata “tidak apa-apa” padahal sebenarnya hancur. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya meminta. Aku takut jika aku menunjukkan lemah ku, orang-orang akan semakin menjauh.
Jadi aku menyimpannya sendiri.
Di malam-malam sepi, ketika tidak ada yang melihat, aku berbicara pada diriku sendiri. Aku bertanya, apakah aku cukup? Apakah aku berharga meski tidak ada yang memilihku? Apakah keberadaan ku valid meski tidak pernah menjadi prioritas siapa pun?
Jawabannya tidak pernah jelas.
Namun semakin lama, aku mulai menyadari sesuatu yang menyakitkan sekaligus menenangkan: mungkin selama ini aku mencari cinta di tempat yang salah. Mungkin aku terlalu sibuk menunggu dicintai orang lain, sampai lupa bahwa aku juga manusia yang pantas mendapatkan cinta termasuk dari diriku sendiri. Aku mulai belajar menerima kesepianku. Bukan menyerah, tapi berdamai. Aku berhenti memaksakan diri agar disukai. Aku berhenti mengecilkan perasaanku agar orang lain nyaman. Aku mulai jujur pada diriku sendiri, meski rasanya asing dan canggung.
Aku belum sepenuhnya sembuh. Aku masih berharap, meski tidak sekuat dulu. Aku masih ingin dicintai, meski kini aku tidak lagi menggantungkan hidupku pada itu. Jika suatu hari cinta datang, aku ingin ia datang tanpa syarat, tanpa permainan, tanpa membuatku merasa harus menjadi versi lain dari diriku. Dan jika cinta itu tidak pernah datang, aku ingin tetap berdiri dengan utuh. Aku ingin tahu bahwa meski tidak pernah dipilih, aku tidak gagal sebagai manusia. Aku ingin percaya bahwa nilainya diriku tidak ditentukan oleh siapa yang mencintaiku, tapi oleh siapa aku bertahan menjadi diriku sendiri.
Aku adalah seseorang yang tidak pernah dicintai seperti yang aku harapkan. Tapi aku masih di sini. Masih bernapas. Masih merasa. Masih mampu mencintai, meski dengan hati yang penuh bekas luka. Dan mungkin, itu sendiri adalah bentuk kekuatan yang tidak semua orang miliki.
FIKSI POJOK KAMAR



Komentar
Posting Komentar